Warga dan Juru Parkir Gacoan Makassar Kompak Tolak Palang Parkir Otomatis, Khawatir Hilangkan Nafkah
Koordinator juru parkir dan warga sekitar saat koordinasi penolakan rencana palang parkir otomatis di sejumlah outlet Gacoan Makassar, Minggu (04/01/2026). (Foto: Istimewa)
Makassar, Koran Merah Putih News — Rencana kerja sama antara manajemen sejumlah outlet Gacoan di Kota Makassar dengan pihak ketiga penyedia sistem parkir otomatis menuai penolakan dari warga sekitar dan para juru parkir. Kebijakan pemasangan palang parkir dinilai berpotensi menghilangkan mata pencaharian serta memicu kekacauan parkir karena keterbatasan lahan di lapangan, Minggu (04/01/2026).
Penolakan mencuat karena kondisi parkiran di hampir seluruh outlet Gacoan Makassar dinilai sempit dan selama ini membutuhkan pengaturan manual oleh juru parkir. Warga menilai, tanpa pengaturan langsung di lapangan, potensi kendaraan saling bersenggolan, area parkir cepat penuh, hingga kemacetan di titik tertentu akan semakin besar.
Selain itu, muncul kekhawatiran apabila sistem parkir ke depan diberlakukan dengan skema berbayar per jam yang justru dinilai membebani pengunjung.
Dalam koordinasi yang dilakukan para koordinator juru parkir di berbagai outlet Gacoan Makassar, warga sekitar dan juru parkir menyatakan sikap menolak rencana pemasangan palang parkir otomatis tersebut.
Ilustrasi palang parkir otomatis yang dikhawatirkan berdampak pada pengaturan parkir dan penghasilan juru parkir setempat. (Foto: Istimewa)
Salah satu koordinator juru parkir, DT, menyampaikan kebijakan tersebut dinilai hanya menguntungkan perusahaan dan mengabaikan peran juru parkir yang selama ini menjaga ketertiban area parkir.
“Kami ini bukan tidak punya sejarah. Kami sudah lama berada di titik ini, menjaga keamanan dan ketertiban parkir. Kenapa saat kondisi aman dan damai justru kami tidak dihargai?” ujar DT dalam pertemuan juru parkir di Outlet Pengayoman. Ia juga menyebut dirinya sebagai Koordinator Parkir Outlet Gacoan Pettarani.
Kapolda Sulsel Pimpin Rakor Lintas Sektoral, Tekankan Kesiapsiagaan dan Ketertiban Publik
Sikap serupa disampaikan juru parkir dari outlet Gacoan Hertasning dan Ratulangi. Mereka menilai pemasangan palang parkir otomatis berpotensi membuat warga sekitar kehilangan mata pencaharian, sekaligus menimbulkan risiko keamanan kendaraan pengunjung karena tidak ada petugas yang secara langsung mengawasi.
“Kalau tidak ada juru parkir yang mengontrol, siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kehilangan barang di kendaraan?” ujar PI, salah satu juru parkir.
Koordinator Juru Parkir Gacoan Pengayoman, DM, juga menilai rencana tersebut sarat kepentingan sepihak. Ia menyebut tidak adanya koordinasi awal dengan juru parkir sebagai pihak yang selama ini berkontribusi langsung di lapangan.
“Kami tidak pernah diajak bicara. Tiba-tiba muncul rencana pemasangan palang parkir. Seolah-olah kami ini tidak dianggap manusia,” tegas DM.
Ia juga menyoroti apabila juru parkir diwacanakan untuk digaji oleh pihak vendor, maka mekanismenya harus mengacu pada ketentuan ketenagakerjaan, termasuk soal upah yang layak.
“Kalau mau digaji, harus sesuai aturan. Bukan asal mempekerjakan dengan upah minim,” pungkasnya.
Warga dan pengurus parkir melakukan koordinasi terkait rencana palang parkir otomatis yang menuai penolakan. (Foto: Istimewa)
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak manajemen Gacoan maupun pihak vendor terkait rencana pemasangan palang parkir tersebut.
Penulis: Muh. Haris

Komentar
Posting Komentar