Menjelajah Dunia di Usia Senja, Pasangan Asal Aceh Tempuh 15.000 Kilometer, Temukan BBM Iran Lebih Murah dari Air Mineral
Padangsidimpuan -
Usia bukanlah penghalang untuk mewujudkan impian. Selama kesehatan dan semangat masih terjaga, perjalanan untuk mengenal dunia tetap bisa dilakukan, bahkan ketika usia telah memasuki kepala enam.
Semangat itulah yang diperlihatkan pasangan asal Aceh, T. Faisal Laksamana (65) dan dr. Indriati (61). Keduanya kini tengah melanjutkan ekspedisi keliling dunia menggunakan mobil pribadi.
Perjalanan panjang tersebut telah mencapai sekitar 15.000 kilometer dan membawa mereka mengunjungi 15 negara.
Salah satu pengalaman menarik mereka terjadi ketika tiba di Iran. Di negara tersebut, pasangan yang kini berdomisili di Padangsidimpuan, Sumatera Utara, ini menemukan kenyataan yang cukup mengejutkan. Harga bahan bakar minyak (BBM) ternyata jauh lebih murah dibandingkan air mineral.
Berdasarkan pengalaman mereka, bensin RON 90 yang dibeli di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) hanya setara sekitar Rp1.500 per liter.
Sebaliknya, air mineral dalam botol besar yang dibeli di supermarket justru mencapai sekitar Rp4.000.
Perbedaan harga tersebut menjadi cerita tersendiri bagi Faisal dan Indriati. Sebuah pengalaman sederhana yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelum menginjakkan kaki di negeri Persia itu.
Bukan hanya soal BBM dan air mineral. Keduanya juga dibuat terkesan dengan harga buah-buahan di Iran. Anggur segar yang dibeli dari pedagang lokal, misalnya, bisa diperoleh sekitar Rp25.000 dalam jumlah cukup banyak.
Sementara itu, untuk menikmati hidangan di restoran, mereka mengeluarkan biaya sekitar Rp200.000 untuk makan berdua.
Iran, Negara Ke-15 dalam Ekspedisi
Kedatangan Faisal dan Indriati di Teheran, ibu kota Iran, menjadi penanda perjalanan mereka telah memasuki negara ke-15.
Sebelum tiba di Iran, keduanya telah melewati sejumlah negara, mulai dari kawasan Asia Tenggara, China, Kazakhstan, Kirgizstan, Uzbekistan, Tajikistan hingga Afghanistan.
Perjalanan lintas negara menggunakan mobil pribadi tentu bukan perkara mudah. Selain membutuhkan persiapan fisik dan kendaraan, mereka juga harus berhadapan dengan berbagai urusan administratif di setiap perbatasan.
Salah satu pengalaman yang cukup menegangkan terjadi ketika hendak memasuki Iran. Keduanya sempat menghadapi kendala karena proses pengurusan visa belum selesai.
Namun, persoalan tersebut akhirnya dapat diselesaikan berkat bantuan warga setempat. Dukungan dan pertolongan masyarakat yang mereka temui membuat perjalanan kembali bisa dilanjutkan.
Keramahan Warga Menjadi Kenangan
Di balik perjalanan panjang dan pengalaman menemukan berbagai perbedaan harga kebutuhan, ada hal lain yang meninggalkan kesan mendalam bagi Faisal dan Indriati, yakni keramahan masyarakat Iran.
Keduanya mengaku sering disapa warga lokal. Bahkan, mereka mendapat kesempatan berbincang langsung dengan masyarakat setempat untuk mengenal kehidupan sehari-hari di negara tersebut.
Pengalaman seperti inilah yang membuat perjalanan keliling dunia memiliki makna lebih luas daripada sekadar mengunjungi tempat-tempat baru.
Bagi Faisal dan Indriati, setiap negara menyimpan cerita, kebiasaan, budaya, serta kehidupan masyarakat yang menarik untuk dikenal secara langsung.
Perjalanan sejauh 15.000 kilometer yang telah mereka tempuh menjadi bukti bahwa keinginan untuk belajar dan mengenal dunia tidak harus berhenti ketika seseorang memasuki usia senja.
Di usia 65 dan 61 tahun, keduanya masih memiliki semangat untuk terus melangkah, melintasi perbatasan negara demi negara, sekaligus mengumpulkan pengalaman berharga dalam perjalanan hidup.
Kisah pasangan asal Aceh ini memberikan pesan sederhana namun bermakna: usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk menjalani kehidupan dan mewujudkan impian tidak harus ikut memudar.
Ekspedisi mereka pun masih berlanjut.
Masih banyak perjalanan, tempat, dan cerita baru yang menanti untuk dijelajahi.
Sumber: ANTARA Sumatera Utara, Jumat (30/10/2026).
Oleh: Muhammad Junaidi Nasri (MAHAJUNA)
