Harmoni ‘Nataraga’: FMI dan PMA jalin sinergi strategis demi kedaulatan mountaineering dan kesejahteraan Papua
|
| Foto bersama usai penandatanganan nota kesepahaman PB FMI dan PMA dalam program Nataraga di Jakarta. |
Jakarta, Koran Merah Putih News — Pengurus Besar Federasi Mountaineering Indonesia (PB FMI) bersama Papua Mountaineering Association (PMA) menandatangani nota kesepahaman strategis program “Nataraga” sebagai langkah penguatan kedaulatan mountaineering nasional dan pemberdayaan masyarakat Papua berbasis kelestarian alam, Sabtu (7/2/2026).
Ketua Umum PB FMI, Mayjen Marinir (Purn.) Buyung Lalana, S.E., menegaskan bahwa kemitraan ini merupakan langkah konkret dalam mengoptimalkan bentang alam Indonesia sebagai pilar kesejahteraan.
“Nataraga adalah ikhtiar kita bersama agar kekayaan alam memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat lokal, dengan standar keamanan mutlak zero accident serta prinsip keberlanjutan zero waste,” tegasnya.
Misi humanis dan jembatan menuju panggung internasional
Ketua Umum PMA, Maximus Tipagau, S.E., menyebut kolaborasi ini sebagai jembatan strategis untuk mengangkat potensi pegunungan di Papua, khususnya Puncak Jaya (Carstensz Pyramid), ke panggung internasional secara bermartabat dan berkelanjutan.
“Gunung dunia itu ada di Papua. Ke Papua harusnya seperti perjalanan yang humanis, bukan pendekatan militer. Melalui PMA dan FMI, kita dorong kehadiran Polisi Pariwisata yang sudah disetujui Bapak Kapolri. Kita bangun kepercayaan dunia bahwa Papua adalah destinasi yang aman, sehat, dan berstandar global,” ujarnya.
Maximus menekankan tiga pilar utama yang akan dijalankan dalam waktu dekat:
1. Sertifikasi global: melatih Orang Asli Papua (OAP) menjadi tenaga ahli mountaineering bersertifikat internasional.
2. Ekonomi inklusif: menata objek wisata Jayawijaya agar berdampak langsung pada ekonomi daerah.
3. Kesehatan dan rescue: penguatan standar gizi masyarakat serta tim evakuasi medis profesional.
Standarisasi keselamatan dan reputasi internasional
Sekjen PB FMI, dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, Sp.B., menambahkan bahwa fokus kemitraan ini adalah menciptakan ekosistem pendakian yang komprehensif dengan standar keselamatan tinggi dan pengawasan kesehatan yang ketat.
Ia menyebut kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk sektor pariwisata, kehutanan, ekonomi, hingga unsur TNI dan Polri, menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan global terhadap destinasi pendakian Indonesia.
“Kami ingin meningkatkan kualitas pendaki nasional agar memiliki sertifikasi yang diakui dunia. Dengan dukungan PMA, gunung-gunung di Indonesia, terutama di Papua, akan menjadi laboratorium alam yang aman, bersih, dan membanggakan secara internasional,” ungkapnya.
Implementasi teknis dan kolaborasi lintas sektor
Nota kesepahaman ini akan ditindaklanjuti melalui langkah teknis di lapangan, termasuk modernisasi sistem tanggap darurat, penguatan standar keselamatan, serta koordinasi intensif dengan kementerian terkait.
Sinergi FMI sebagai pusat di Jakarta dan PMA sebagai kekuatan lokal di Papua diharapkan mampu menyederhanakan koordinasi serta mempercepat kemajuan pariwisata pegunungan nasional.
Kemitraan ini dipandang bukan sekadar kolaborasi olahraga, melainkan komitmen nasional dalam menata potensi alam Indonesia agar memberikan manfaat bagi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, serta memperkuat reputasi Indonesia di tingkat global.
Tentang Federasi Mountaineering Indonesia (FMI)
Organisasi nasional yang membidangi olahraga mountaineering dengan fokus pada prestasi, edukasi keselamatan, serta pelestarian lingkungan.
Tentang Papua Mountaineering Association (PMA)
Organisasi lokal Papua yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan potensi pegunungan secara berkelanjutan.
Penulis: Zulfaz
```0
Komentar
Posting Komentar